Drama Our Unwritten Seoul Jujur saja, sepanjang saya menonton drama Korea, yang paling saya suka dari drama-drama produksi mereka adalah relate-nya dengan kehidupan. Saya suka film, drama, novel, dan karya-karya fiksi apa pun yang mencerminkan realitas hidup. Tokoh-tokoh itu seperti diri kita yang lemah dan punya kekurangan, tapi tetap berusaha bertahan. Lantas, mereka menemukan jalan keluar dari masalah dan kebahagiaan setelah air mata. Sebagaimana kita juga berharap bisa melewati setiap badai dalam hidup dan meraih happy ending nantinya.
Kali ini, drama Our Unwritten Seoul sukses membawakan tema itu dengan baik. Meski mungkin tidak unik, tetapi karena terhubung dengan realita hidup, maka drama ini layak diberi kesempatan. Saya pun awalnya menonton episode 1 hanya untuk membuang penat, tetapi ternyata tidak bisa berhenti hingga akhir.
PEMERAN YANG BIKIN KITA BAPER SEPANJANG CERITA
Dibintangi oleh Park Bo-young dan Park Jin-young, drama ini bercerita tentang kehidupan dua gadis kembar identik yang mengambil jalan hidup berbeda. Yoo Mi-ji, seorang gadis yang ketika di masa sekolah menyabet banyak medali sebagai atlet lari, akhirnya harus gantung sepatu karena cedera. Ketika dewasa, ia pun jadi tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia memilih tetap tinggal di desa menemani ibu dan neneknya, bekerja serabutan, dan tidak pernah “dipandang” orang. Di usia hampir 30 tahun, ia juga nyaris menyerah soal kisah cinta.
Kehidupannya berbeda jauh dengan Yoo Mi-rae, kembarannya. Mi-rae terlahir dengan tubuh ringkih dan sering sakit, tetapi begitu cerdas secara akademis. Meski gagal mendaftar PNS, Mi-rae akhirnya bisa bekerja di perusahaan keuangan Korea dan pencapaian itu selalu dibanggakan ibunya di desa. Mi-rae yang mentransfer biaya untuk hidup ibu dan Mi-ji, juga untuk pengobatan neneknya di rumah sakit.
Suatu hari, Mi-ji disuruh ibunya mengantarkan makanan ke Seoul untuk Mi-rae. Meski Mi-ji enggan, akhirnya ia berangkat juga. Di Seoul, ia justru mendapati saudara kembarnya itu tampak depresi dan kelelahan dengan pekerjaan. Mi-rae membicarakan soal kemungkinan untuk bisa meninggalkan tempat kerja, cuti, atau berhenti. Bahkan, Mi-rae hampir mencelakai diri karena melompat dari lantai tiga apartemennya demi bisa mengambil jatah cuti sakit.
Quote Nampol di Sepanjang Cerita Jadi Poin Plus Drama “Our Unwritten Seoul”

Mi-ji yang melihat kembarannya kesulitan, menawarkan solusi sementara. Solusi yang sejak mereka masih kecil sering sekali dipakai. Tentu ini bukan plot unik, karena sejak saya masih kecil, saya bahkan menonton sinetron dengan alur serupa. Apalagi kalau bukan bertukar peran? Yang paling memungkinkan untuk bertukar peran tanpa ketahuan adalah saudara kembar.
Misi ini berjalan secara rahasia. Mereka berdua sepakat akan menjalani beberapa bulan kehidupan masing-masing, sampai Mi-rae cukup kuat untuk mengambil keputusan, akan terus bekerja atau resign.
Di awal drama, kita mungkin akan bertanya “mengapa” dan “mengapa”. Mengapa sikap Mi-rae sedingin itu? Mengapa Mi-ji harus gantung sepatu padahal dia atlet berprestasi? Dan banyak mengapa lainnya.
Satu per satu “mengapa” itu terjawab di sepanjang episode drama ini. Terutama melalui penghubung antara Mi-ji dan Mi-rae, yaitu Lee Hosu. Hosu adalah teman yang baru pindah ke sekolah mereka saat SMA. Mereka juga bertetangga. Ibu Hosu dan ibu Miji-Mirae adalah teman satu SMA dulunya.

Yang paling saya suka dari drama ini adalah pesan dari tiap dramanya. Banyak sekali kata-kata yang mengena di hati, bahkan membuat saya menangis.
“Kemarin sudah berlalu, esok belum terjadi, hari ini pun belum pasti. Jadi, berjuanglah.”
Kalimat ini adalah salah satu yang sering dikatakan Mi-ji sebelum memulai hari. Di balik sikap ceria dan semangatnya, ia sebenarnya juga punya sisi lemah dan cengeng. Sisi yang mengharapkan dunia memberinya lebih banyak kesempatan.
Ucapan Nenek juga membuat saya menyadari bahwa menyayangi diri sendiri itu penting.
“Jika kelomang atau rusa lari dari kejaran pemburunya, apakah itu namanya pengecut? Tidak. Mereka hanya sedang berusaha bertahan hidup. Dan, apa pun cara bertahan hidup, itu patut dihargai.”
Usia Hanyalah Angka, Segalanya Masih Belum Berakhir
Padahal, nyatanya, diri kita kadang berusaha survive dengan cara tertentu. Tubuh dan jiwa kita juga menuntut istirahat, tidak bisa selalu on perform. Maka tidak apa-apa jika sejenak harus berhenti, sejenak diam, untuk menata arah hidup lagi.
Pada usia 30 tahun, Hosu memutuskan keluar dari pekerjaannya di kantor hukum paling bergengsi di Seoul. Ia keluar karena tidak memiliki kesamaan visi dengan atasannya. Ia merasa ingin memperjuangkan visinya sendiri. Awalnya, mungkin itu tidak mudah. Hosu memiliki disabilitas ringan—kaki yang tak bisa berjalan cepat dan telinga yang tak bisa maksimal mendengar—karena efek kecelakaan saat ia masih remaja. Dalam kecelakaan itu, ayahnya meninggal.
Dengan kondisi disabilitas ini, tak banyak peluang yang ia kira akan ia miliki. Maka, bisa masuk kantor bergengsi adalah sebuah anugerah. Setelah melepasnya, ia harus memulai dari nol. Belum lagi, atasannya memberitahu pada kolega-kolega mengenai kasus Hosu. Rekam jejak Hosu menjadi buruk dan terancam kena blacklist.
BAGIAN BERTUKAR PERAN
Di sisi lain, ada Mi-ji yang tengah bertukar peran dengan Mi-rae. Di usia yang sama, Mi-ji juga belum tahu apa misi hidupnya. Ia harus belajar dari nol semua jobdesc pekerjaan yang ia dapat di kantor Mi-rae. Saat itulah, Mi-ji bertemu dengan Hosu.
Ternyata, Hosu sebelumnya telah bertemu dengan Mi-rae sehubungan dengan masalah laporan hukum yang dibuat Mi-rae di kantor. Hosu menjadi pengacara mewakili atasannya untuk mengawal kasus tersebut. Namun, kemudian Mi-rae mencabut laporannya.
Dari sanalah, terungkap lebih banyak alasan Mi-rae depresi dan akhirnya memilih bertukar peran dengan Mi-ji. Pertemuan Mi-ji dengan Hosu juga menyingkap lebih banyak tentang masa lalu mereka dan kisah cinta yang belum usai.
Drama ini memberi kita pelajaran bahwa bisa saja seseorang memutuskan mengambil jalur berbeda di usia yang sudah matang. Bisa saja hidup justru seakan baru dimulai di usia 30-an. Bisa saja hubungan asmara baru menemukan titik terang di usia itu. Dan… itu tidak terlambat. Hal yang bisa kita ingat-ingat agar tak perlu terlalu keras pada diri sendiri, karena usia hanyalah angka.
Dari sanalah, terungkap lebih banyak alasan Mi-rae depresi dan akhirnya memilih bertukar peran dengan Mi-ji. Pertemuan Mi-ji dengan Hosu juga menyingkap lebih banyak tentang masa lalu mereka dan kisah cinta yang belum usai.
Arti Keluarga dan Kasih Sayang Orang Tua-Anak

Drama ini memberi kita pelajaran bahwa bisa saja seseorang memutuskan mengambil jalur berbeda di usia yang sudah matang. Bisa saja hidup justru seakan baru dimulai di usia 30-an. Bisa saja hubungan asmara baru menemukan titik terang di usia itu. Dan… itu tidak terlambat. Hal yang bisa kita ingat-ingat agar tak perlu terlalu keras pada diri sendiri, karena usia hanyalah angka.
Drama ini memberi kita pelajaran bahwa bisa saja seseorang memutuskan mengambil jalur berbeda di usia yang sudah matang. Bisa saja hidup justru seakan baru dimulai di usia 30-an. Bisa saja hubungan asmara baru menemukan titik terang di usia itu. Dan… itu tidak terlambat. Hal yang bisa kita ingat-ingat agar tak perlu terlalu keras pada diri sendiri, karena usia hanyalah angka.
Satu hal lagi yang sukses bikin saya nangis dari drama ini adalah… betapa hubungan orang tua dan anak bisa sangat kompleks. Sebenarnya, ibu Mi-ji dan Mi-rae menyayangi keduanya. Namun, ternyata kasih sayangnya yang tak disampaikan dengan tepat membuat Mi-rae merasa ia dituntut menjadi tulang punggung keluarga serta memberi banyak kebanggaan untuk keluarga, sementara Mi-ji merasa ibunya tak pernah memperhatikannya karena sibuk mengurus kembarannya yang sering sakit. Akar dari miskomunikasi itu adalah karena ibu mereka memiliki inner child yang belum selesai. Pada episode akhir-akhir, terungkaplah hal itu.
Selain itu, drama ini juga menceritakan bagaimana sosok ibu sambung begitu menyayangi anaknya. Ibu kandung Hosu sebelumnya telah meninggal, lalu ayahnya menikah lagi. Namun, tak lama kemudian, sang ayah meninggal juga. Hosu pun diasuh oleh ibu tirinya hingga dewasa. Namun, kasih sayang sang ibu tiri sangat tulus. Ia telah menganggap Hosu anak kandungnya sendiri dan selalu bangga dengan apa yang Hosu capai.
Sedikit Minus, Totally Recommended

Masalah yang melilit Mi-rae juga terjadi karena mereka merindukan sosok ayah. Ayah mereka adalah sosok ideal yang sangat hangat. Bisa menjadi teladan bagi semua laki-laki yang ingin menjadi ayah baik. Namun, sayangnya, ayah yang baik itu tak berumur panjang.
Pernak-pernik keluarga ini sering kita temui di judul-judul drama lainnya, tapi tetap saja membuat haru. Entah berapa kali saya menonton drama yang mengangkat tema serupa, tapi air mata saya tetap tak terbendung. Apalagi di sini nggak ada yang namanya orang tua jahat. Di sini semuanya saling sayang, hanya mengungkapkannya saja yang berbeda cara.
Kalau disuruh menilai kekurangan drama ini, mungkin hanya dari segi pemilihan kasting untuk peran masa remaja Mi-ji dan Mi-rae. Pemeran remajanya sama sekali enggak mirip dengan yang di masa dewasa. Jadi kayak tiba-tiba berubah wajah dalam waktu sekejap. Padahal Park Bo-young kan awet muda banget. Menurut saya nggak perlu dibikin beda wajah ketika masa remajanya. Jin-young juga saya rasa masih cocok pake baju SMA, hahaha. Namun, pemeran Hosu saat remaja masih lebih mirip daripada pemeran Mi-ji dan Mi-rae.
Dengan jumlah 12 episode, drama ini sudah menghadirkan cerita yang mengesankan dan membuat saya berdecak kagum. Chemistry antara pasangan di sini juga terbangun dengan baik. Kasus yang diangkat meski telah berulang kali dibahas, tetap bisa disampaikan dengan mengalir dan menggelitik naluri. Untuk kalian yang pengen nonton sesuatu yang nggak terlalu berat tapi juga nggak ringan-ringan banget, drama ini cocok menemani akhir pekan. Seperti halnya drama romansa lainnya, kalo kalian setipe sama saya, silakan siapkan fitur skip kiss scene, ya. Selamat menonton!




