Drama The First Frost: 5 Pesan Psikologis Menyentuh Hati
bukan drama yang saya nantikan tahun 2026 ini. Saya pun nggak tertarik untuk menonton pada awalnya. Saya bukan penggemar Bai Jingting, dan saya nggak kenal lead female-nya. Namun, saya tertarik setelah membaca premisnya dan menyadari bahwa ini drama sekuel dari Hidden Love.
Apakah saya penggemar Hidden Love? Enggak, jelas enggak, karena saya berhenti menonton drama itu pada episode 20an, itu pun setelah maksain nonton beberapa episode sebelumnya. Sebenarnya Hidden Love punya opening yang bagus, sayangnya di tengah-tengahnya membosankan dan … menurut saya nih, agak terlalu cringe. Entahlah, pokoknya saya sempat menangis juga nonton Hidden Love, di adegan yang nggak terduga, tapi saya nggak bisa bilang saya suka drama itu.
Sang Yan (dibintangi oleh Bai Jingting) bertemu dengan Wen Yifan (diperankan oleh Zhang Ruonan) pada masa SMA. Yifan adalah murid pindahan yang terkenal cantik seperti boneka. Sementara Sang Yan anak yang begajulan, nggak suka belajar dan lebih suka main basket sama nge-game. Bisa dibilang, Sang Yan tertarik perlahan-lahan dengan Wen Yifan setelah mereka duduk sebangku karena ada di kelas yang sama.
Yifan memiliki sifat pendiam dan tertutup. Biasanya, kan, pasangan tuh sifatnya terbalik ya. Namun, di sini diceritakan bahwa Sang Yan juga orang yang introver, tapi masih lebih terbuka daripada Yifan. Ya, Yifan nggak punya teman, sementara Sang Yan masih bisa berteman dengan banyak orang meski yang dekat cuma beberapa. Yifan jarang banget ngomong, Sang Yan bisa membuka pembicaraan lebih dulu. Jadi, di masa SMA, jauh lebih banyak Sang Yan yang mengajak komunikasi duluan daripada Yifan. Namun, sejatinya mereka sama-sama saling tertarik.

Wen Yifan dan Sang Yan dalam drama “The First Frost”
Cerita drama “The First Frost” dibuka dengan adegan pertemuan mereka di masa SMA, lalu menuju masa kini. Mereka telah terpisah selama 7 tahun setelah lulus SMA. Kini, kondisinya Wen Yifan baru kembali dari perantauan. Ia kembali ke Nanwu setelah 7 tahun lamanya tinggal di Yihe. Saat itulah, ia kembali bertemu dengan Sang Yan yang kini membuka bar bersama beberapa teman masa SMA-nya. Karena suatu keadaan tak terduga, mereka jadi harus menyewa apartemen yang sama. Dari situlah, kedekatan mereka kembali terjalin.
Sekilas sepertinya ini alur yang klise, tetapi percayalah… drama ini benar-benar menyuguhkan tema psikologis yang memukau. Saya bisa bilang ini jauh lebih menarik daripada Hidden Love yang dulu digembor-gemborkan orang saat tayang. Kisah “The First Frost” memiliki konflik yang lebih mendalam dan pesan yang layak kita jadikan pelajaran.
Keluarga adalah Harapan Setiap Anak

Anak tidak mengharapkan keluarga sempurna. Orang tua tidak harus kaya dan memberikan apa pun yang dimaui anak. Cukuplah orang tua itu ada untuknya dan memberi dukungan di saat yang dibutuhkan, maka anak akan baik-baik saja.
Kondisi yang menimpa Wen Yifan terjadi karena sepeninggal sang ayah, ibunya abai menjaganya. Saya juga heran, kok ada ibu yang sepasif ibunya Yifan? Apa susahnya mengajak anak gadis yang sudah SMA untuk tinggal bersama? Kenapa seegois itu, memutuskan menikah lagi dengan orang yang anak sambungnya tidak mau menerima keberadaan Yifan? Padahal, ibu yang mengandung dan melahirkan, kenapa tidak sayang dengan Yifan?
Namun, ya begitulah, dunia kadang tidak ideal. Yifan ditakdirkan tidak memiliki ibu yang empatik. Meski akhirnya sang ibu menyesal, tetapi itu sudah terlambat. Yifan melalui kehidupan yang berat semasa SMA hingga dewasa muda sendirian.
Benar-benar sendiri. Namun, sayangnya, di drama ini enggak dijelaskan bahwa Yifan mengunjungi terapis atau psikolog. Kalau iya, saya yakin dia sebenarnya punya gangguan kecemasan atau depresi karena banyak sekali masalah yang dia lalui selama bertahun-tahun.
Hargailah Dirimu Sendiri

Hargai diri kita dengan memberi diri kesempatan, meski awalnya tidak mudah. Terbukti, saat akhirnya Yifan membuka diri, orang-orang baik pun berdatangan menyambutnya.
Tentu ia masih merasa tidak layak menerima cinta, karena trauma dengan keluarga yang membuangnya, tetapi bukan berarti itu menjadi halangan. Ia akhirnya bertemu dengan Zhong Si Qiao, kawan karibnya saat SMA, Ia bertemu lagi dengan Sang Yan, cinta sejatinya.
Ia juga bertemu Su Hao An, kawan Sang Yan yang sama baiknya dengan lelaki itu.
Di tempat kerja, ia juga bertemu redaktur yang baik dan rekan-rekan yang suportif. Itulah yang terjadi bila kita berpikiran positif, maka akan menarik hal-hal positif di sekitar juga. Percayalah, akan selalu ada yang mau berada di sisi kita, ketika yang lain meninggalkan.
Kadang, saat-saat terburuk justru adalah waktu kita untuk menyeleksi siapa yang bertahan, dan siapa yang memilih pergi.
Sang Yan yang selalu bisa menerbitkan senyum Yifan dalam drama

Kita tidak selalu bicara romantisme, meski di sini peran Sang Yan sangatlah besar bagi penyembuhan Wen Yifan. Yifan mengalami kondisi “tidur berjalan” karena stres kronis yang dipendamnya bertahun-tahun. Kalaupun bukan depresi, mungkin itu ada kaitannya dengan gangguan stres pascatrauma. Drama ini menyinggung masalah sensitif, yaitu pelecehan seksual yang pernah dialami Wen Yifan.
Saat bertemu Sang Yan, Yifan seakan menemukan rumah—tempat untuk pulang, bagaimanapun kondisinya. Saat Yifan tidak percaya, Sang Yan selalu menyediakan tempat aman, memeluk dan menemaninya. Untuk saya, banyak adegan yang membuat saya menangis, bahkan ketika tokoh-tokoh di sini tidak sedang menangis.
Adegan yang membuat saya menangis pertama kali adalah saat Yifan memilih untuk pura-pura tidur berjalan karena sangat ingin memeluk Sang Yan lagi. Yifan, yang memilih menjauhi Sang Yan selepas lulus SMA, ternyata masih memendam perasaan serupa setelah mereka bertemu lagi. Itu karena keputusannya dulu dilakukan karena masalah yang bertubi-tubi menimpa, bukan murni keinginannya sendiri.
Selain Sang Yan, keberadaan sahabat dan teman-teman dekat yang sangat suportif juga membantu Yifan segera sembuh. Memang ia tidak langsung terbuka, tetapi karena orang-orang tidak menyerah dengannya, Yifan akhirnya paham bahwa ia tidak perlu melalui semuanya sendirian. Ia bisa berbagi, bercerita, dan mempercayai mereka untuk menjadi bahu saat ia lelah.
Cantik Tak Selalu Berarti Anugerah, Kadang Itu Cobaan

Bagi Wen Yifan, mungkin ia ingin memilih terlahir dengan rupa biasa saja. Ia mengalami banyak perlakuan tidak menyenangkan karena parasnya yang cantik. Ia dituduh menggoda Sang Yan duluan saat SMA, sampai mereka dipanggil BK.
(Di China, anak-anak SMA tidak boleh berpacaran). Ketika SMA, ia juga mengalami pelecehan oleh seseorang saat pindah ke rumah bibinya. Ketika bekerja, ia mengalami hal serupa beberapa kali.
Rasanya, hampir mustahil Yifan memercayai laki-laki lagi. Ia jadi sangat susah dekat dengan laki-laki dan enggan disentuh. Gampang kaget ketika ada yang mendekatinya. Ia juga cukup waspada. Kecuali dengan Sang Yan. Mungkin karena mereka sudah kenal sejak SMA, sebelum semua tragedi itu terjadi dalam hidup Yifan.
Tinggal dengan Sang Yan, berada di dekatnya, tidak membuat Yifan ter-trigger. Sang Yan … adalah laki-laki yang layak ada di kehidupan semua wanita. Kesabarannya menunggu, kesetiaannya, dan perhatian-perhatian kecilnya… tidak mungkin ada wanita yang bisa bertahan tanpa jatuh cinta dengan semua itu.
Selalu Ada Cahaya di Ujung Jalan
Wen Yifan mungkin merasa melalui hidup yang begitu gelap. Ia pernah ada di posisi nyaris putus asa. Tidak ada orang yang mendukungnya dan ia takut pada semua orang. Ia takut jika percaya pada satu orang, nanti orang itu akan pergi meninggalkannya juga. Namun, untungnya Yifan tidak menyerah. Ia menjalani hidup meski rasanya kosong. Hampa. Tidak ada tujuan.
Bahkan, Yifan selalu bilang,
“Aku tidak menyukai kota-kota yang kudatangi, dan mereka juga tidak menyukaiku.”
Buah kesabaran Yifan adalah ia menemui kembali cinta sejatinya. Cinta yang tidak lepas memperhatikannya selama 7 tahun, dengan cara yang tidak Yifan mengerti. Cinta yang begitu tulus dan sabar menunggunya sembuh.
Kisah dalam drama “The First Frost” memberi kita harapan. Bahwa akan ada cahaya di ujung jalan. Seperti ketika melewati terowongan gelap, lalu kita menemukan ujungnya. Cara satu-satunya hanya terus melangkah, terus berjalan, jangan berhenti. Jangan menyerah.
Mungkin karena saya menonton drama ini dalam kondisi emosi yang sedang naik-turun, maka saya sangat tersentuh. Drama ini sangat layak ditonton—terlepas dari adegan kissing scene yang seperti biasa saya skip. Pesan moralnya indah, disajikan dengan narasi yang bagus, alur maju mundur yang tidak membosankan, serta sinematografi yang menarik. Jangan lupakan chemistry pemerannya yang sangat kuat. Pokoknya, nyaris sempurna!




